Luka fisik sering kali lebih mudah dikenali dan diobati karena terlihat nyata oleh mata. Namun, bagaimana dengan luka yang tersimpan rapi di dalam batin? Banyak orang tumbuh dengan membawa penderitaan emosional, trauma masa lalu, atau rasa sakit yang tidak pernah benar-benar disembuhkan. Kebanyakan dari kita memilih untuk mengabaikannya, pura-pura kuat, atau sekadar berharap waktu akan menyembuhkannya secara otomatis.
Melalui bukunya yang diterbitkan pada tahun 2022 berjudul Merawat Luka Batin, dr. Jiemi Ardian, Sp.KJ—seorang psikiater dan edukator kesehatan mental—hadir untuk meluruskan pemahaman kita tentang proses penyembuhan jiwa. Buku ini membimbing pembaca untuk melihat luka emosional bukan sebagai kelemahan, melainkan sebagai bagian alami dari manusia yang perlu diakui, dirawat, dan dipulihkan dengan cara yang bijak.
Mitos Penyembuhan: Waktu Tidak Menyembuhkan Luka
Poin krusial yang ditegaskan oleh dr. Jiemi Ardian di awal buku ini adalah bantahan terhadap ungkapan populer “waktu akan menyembuhkan segalanya”. Menurutnya, waktu saja tidak memiliki kekuatan magis untuk memulihkan luka batin.
Waktu hanya memberi jarak, tetapi jika luka tersebut dibiarkan tanpa perawatan yang tepat, luka itu hanya akan membusuk di bawah permukaan dan memengaruhi cara kita berpikir, mengambil keputusan, serta berinteraksi dengan orang lain di masa depan. Proses penyembuhan membutuhkan tindakan sadar (intentional act) dan keberanian untuk memproses rasa sakit tersebut.
Mengenali dan Menerima Emosi (Emotional Awareness)
Salah satu masalah utama masyarakat modern adalah kebiasaan melakukan toxic positivity—memaksa diri untuk selalu berpikiran positif dan menekan emosi negatif seperti sedih, marah, atau kecewa. Dr. Jiemi Ardian mengingatkan bahwa semua emosi adalah valid dan memiliki fungsinya masing-masing.
Proses merawat luka batin dimulai dari kesadaran dan penerimaan emosi:
- Mengakui (Acknowledge): Berani mengakui bahwa diri kita sedang tidak baik-baik saja tanpa merasa bersalah.
- Vonis Tanpa Menghakimi (Non-Judgmental): Berhenti melabeli diri sendiri lemah atau gagal hanya karena sedang merasa sedih atau terluka.
- Merasakan (Feeling the Emotion): Memberi ruang bagi diri sendiri untuk merasakan emosi tersebut hingga mereda secara alami, bukan melarikannya ke perilaku adiktif atau distraksi yang merusak.
Berdamai dengan Pengampunan dan Self-Compassion
Memaafkan sering kali menjadi topik yang sulit ketika berbicara tentang luka batin. Buku ini menjelaskan bahwa memaafkan bukanlah bentuk pembenaran atas kesalahan orang lain, melainkan sebuah tindakan membebaskan diri sendiri dari beban kebencian yang terus menggerogoti jiwa.
Selain memaafkan orang lain, dr. Jiemi juga menekankan pentingnya self-compassion (belas kasih pada diri sendiri). Kita kerap menjadi pihak yang paling kejam terhadap diri sendiri saat melakukan kesalahan. Merawat luka batin menuntut kita untuk memperlakukan diri sendiri dengan kehangatan dan empati yang sama seperti saat kita merawat seorang sahabat yang sedang tertimpa musibah.
